Freshly Pressed: Friday Faves

As always, the editors at Freshly Pressed Towers have enjoyed the sheer range and breadth of thoughtful, entertaining, or just plain challenging content you’ve been publishing to Our Readers have seen everything from Cthulhu cookery to to grimdark feminism passing through, and as always, we’ve been more than impressed by the results.

If you’re looking for three stand out posts from this week’s selection, you might want to cast your eye over this week’s Friday Faves:

Fumbling For the Truth: The Freelancing Author, or Will I Ever Be Paid Again?

 . . . so let’s get back to the actual point: that writers are increasingly asked to exchange their services–whether to create entirely new content or to adapt previously published work–for nothing more than the opportunity to reach a larger, or different, audience.

If you’ve any interest in journalism, or writing for a living, you’ve probably seen the recent discussion raging around the issue of professional writers finding it increasingly hard to get paid for their work. Most recently, the controversy around The Atlantic‘s request to repurpose Nate Thayer’s work less any fee for his troubles has gathered a great deal of attention and generated a great many opinions.  In his post Fumbling For the Truth: The Freelancing Author, or Will I Ever Be Paid Again?, Aaron Riccio, a freelance writer, pens one of the most balanced appraisals of the problem facing freelance writers yet, while trying to unpick the causes from the symptoms, and offer possible solutions for a world where publications have dwindling budgets, but writers still need to put bread on the table.

It makes for a compelling, personal, and thoughtful examination of a sticky problem that doesn’t show any signs of going away soon. If you’re at all interested in writing, or just reading the kind of journalism that makes you think, you could do a lot worse than acquainting yourself with the debate through this well-balanced appraisal of the situation as it stands.

Hello, World

I have murdered countless innocents, even children. Armies have bowed before me. I have sown genocide across worlds. Worst of all, my atrocities entertained me.

With this captivating opening line, Matt Wrench of Score Not Found launches a brand new blog dedicated to indie games and gaming. His post serves as both a personal meditation on growing away from the limitations and limited focus of mainstream gaming, while also presenting a kind a manifesto for his blog, which is an attempt to break from the dominant shallow, vapid approach to video game journalism that trades in star ratings and one-liners. This winning combination of bildungsroman, manifesto, and exploration of what the author finds personally lacking in the games that captivated him as a younger player makes for a multifaceted post that’s as likely to appeal to the casual reader as it is the gaming aficionado. Whichever category you fall into, I urge you to give Hello, World a read.

Grokking Expatriates In Sci-Fi*

If you broaden the definition slightly of expatriate from country to planet, you can posit that the Doctor is actually an expat.   His homeworld is Gallifrey, a planet that is lost forever in time, but he spends an awful lot of time on Earth, hanging out with humans and generally getting involved with the culture.  That, my friends, is what an expatriate does.

While we’re on the subject of Hello, World, if you’re interested in a lighter, but magnificently geeky read, you may very well enjoy Grokking Expatriates in Sci-Fi*, a post, penned by an American abroad, dedicated to the expat experience, as seen through the lens of travellers from other worlds. If you’ve ever lived or travelled at length to another country, you’ve very likely experienced the feeling of having landed on an alien planet. Everything’s the same, but somehow different. Marry this idea to the ultimate in outsider fiction, Sci-Fi, and you have the makings of an amusing, and well-researched, geektastic odyssey through fictional ex-pats from Doctor Who to Ford Prefect, by way of *cough* John Spartan of Demolition Man. To say any more would spoil the fun, but if you have a few minutes spare and fancy a warp speed jaunt through Sci-Fi’s great outsiders, I think you’ll enjoy this post a lot.

Did you read something in the Reader that you think is Freshly Pressed material? Feel free to leave us a link, or tweet us @freshly_pressed.

For more inspiration, check out our writing challengesphoto challenges, and other blogging tips at The Daily Post; visit our Recommended Blogs; and browse the most popular topics in the Reader. For editorial guidelines for Freshly Pressed, read: So You Want To Be Freshly Pressed.



































































































































































1. Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah selalu menolong hamba yang suka menolong kawannya. Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah baginya jalan ke surga. Suatu kaum yang berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah, bertilawat Al Qur’an dan mempelajarinya bersama maka Allah akan menurunkan ketentraman dan menaungi mereka dengan rahmat. Para malaikat mengitari mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan para malaikat yang ada di sisiNya. Barangsiapa lambat dengan amalan-amalannya maka tidak dapat dipercepat dengan mengandalkan keturunannya. (HR. Muslim)
2. Jangan meremehkan sedikitpun tentang makruf meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum). (HR. Muslim)
3. Barangsiapa dibukakan baginya pintu kebaikan (rezeki) hendaklah memanfaatkan kesempatan itu (untuk berbuat baik) sebab dia tidak mengetahui kapan pintu itu akan ditutup baginya. (HR. Asysyihaab)
4. Kebaikan itu banyak tetapi pengamalnya (yang melaksanakannya) sedikit. (HR. Abu Hanifah)
5. Bagi Allah ada hamba-hambaNya yang dikhususkan melayani kebutuhan-kebutuhan orang banyak. Mereka berlindung kepadanya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Orang-orang itulah yang aman dari azab Allah. (HR. Ath-Thabrani)


6. Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya. (HR. Bukhari).
7. Barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti) dia mengkufuri nikmat itu. (HR. Ath-Thabrani)
8. Barangsiapa menerima suatu kebajikan lalu berkata kepada pemberinya ucapan “Jazakallahu khairon” (semoga Allah membalas anda dengan kebaikan) maka sesungguhnya dia sudah berlebih-lebihan dalam berterima kasih. (HR. Tirmidzi dan An-Nasaa’i)
9. Orang yang paling berat disiksa pada hari kiamat ialah orang yang dipandang (dianggap) ada kebaikannya padahal sebenarnya tidak ada kebaikannya sama sekali. (HR. Ad-Dailami)
10. Barangsiapa ada kelebihan tempat (tempat yang kosong) dalam kendaraan (punggung unta) hendaklah diberikan kepada orang yang tidak punya kendaraan (diajak serta), dan barangsiapa punya kelebihan bekal (perjalanan) maka hendaklah diberikannya kepada orang yang tidak punya bekal. (HR. Muslim)
11. Janganlah kamu menjadi orang yang “ikut-ikutan” dengan mengatakan “Kalau orang lain berbuat kebaikan, kami pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim kami pun akan berbuat zalim”. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, “Kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya”. (HR. Tirmidzi)

Berbakti Kepada Orang Tua



Orang Muslim meyakini hak kedua orang tua terhadap dirinya, kewajiban berbakti, taat, dan berbuat baik kepada keduanya. Tidak karena keduanya penyebab keberadaannya atau karena keduanya memberikan banyak hal kepadanya hingga ia harus berbalas budi kepada keduanya. Tetapi, karena Allah Azza wa Jalla mewajibkan taat, menyuruh berbakti, dan berbuat baik kepada keduanya.

Bahkan, Allah Ta‘ala mengaitkan hak orang tua tersebut dengan hak-Nya yang berupa penyembahan kepada Diri-Nya dan tidak kepada yang lain. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra’: 23).

Allah SWT berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14).

Seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw., “Siapakah orang yang berhak mendapatkan pergaulanku yang baik?” Rasulullah saw. bersabda, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi?” Rasulullah saw. bersabda, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Siapa lagi?” Rasuluilah saw., “Ibumu.” Orang tersebut berlanya lagi, “Siapa lagi?” Rasulullah saw. bersabda, “Ayahmu.”

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada kedua orang tua, menahan hak, dan mengubur hidup anak perempuan. Allah membenci untuk kalian gosip, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Muttafaq Alaih).

Rasulullah saw. bersabda, “Maukah kalian aku jelaskan tentang dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Menyekutukan Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua.” Ketika itu, Rasulullah saw. bersandar, kemudian beliau duduk, dan bersabda, “Ketahuilah (setelah itu ialah berkata bohong, dan kesaksian palsu). Ketahuilah, berkata bohong, dan kesaksiaan palsu.” Rasulullah saw. terus-menerus mengatakan kalimat terakhir, hingga Abu Bakar berkata, “Ah, seandainya Rasulullah saw. diam tidak mengatakan secara terus-menerus kalimat terakhir.” (Muttafaq Alaih).

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang anak tidak bisa membalas ayahnya, kecuali ia menemukan ayahnya menjadi budak, kemudian ia membelinya, dan memerdekakannya.” (Muttafaq Alaih).

Abdullah bin Mas’ud ra berkata, Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw., ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah Ta‘ala?’ Rasulullah saw. bersabda, “Shalat di awal waktu.” Aku bertanya, ‘Kemudian amalan apa lagi?’ Rasulullah saw. bersabda, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Kemudian amalan apa lagi?’ Rasulullah saw. bersabda, “Jihad di jalan Allah.” (HR Muslim).

Salah seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw. untuk meminta izin berjihad, kemudian beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, keduanya masih hidup.” Rasulullah saw. bersabda, “Mintalah izin kepada keduanya, kemudian berjihadlah.” (Muttafaq Alaih).

Salah seorang dan kaum Anshar datang kepada Rasulullah saw., kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku masih mempunyai kewajiban bakti kepada orang tua yang harus aku kerjakan setelah kematian keduanya?” Rasulullah saw. bersabda, “Ya ada, yaitu empat hal: mendoakan keduanya, memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji keduanya, memuliakan teman-teman keduanya, dan menyambung sanak famili di mana engkau tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dari jalur keduanya. Itulah bentuk bakti engkau kepada keduanya setelah kematian keduanya.” (HR Abu Daud).

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya bakti terbaik ialah hendaknya seorang anak tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya setelah ayahnya menyambungnya.” (HR Muslim).

Setelah orang Muslim mengetahui hak kedua orang tua atas dirinya, dan menunaikannya dengan sempurna karena mentaati Allah Ta’ala, dan merealisir wasiat-Nya, maka juga menjaga etika-etika berikut ini terhadap kedua orang tuanya:

1. Taat kepada kedua orang tua dalam semua perintah dan larangan keduanya, selama di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan kepada Allah dan pelanggaran terhadap syariat-Nya. Karena, manusia tidak berkewajiban taat kepada manusia sesamanya dalam bermaksiat kepada Allah, berdasarkan dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15).

Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya ketaatan itu hanya ada dalam kebaikan.” (Muttafaq ‘Alaih).

Sabda Rasulullah saw., “Tidak ada kewajiban ketaatan bagi manusia dalam maksiat kepada Allah.”

2. Hormat dan menghargai kepada keduanya, merendahkan suara dan memuliakan keduanya dengan perkataan dan perbuatan yang baik, tidak menghardik dan tidak mengangkat suara di atas suara keduanya, tidak berjalan di depan keduanya, tidak mendahulukan istri dan anak atas keduanya, tidak memanggil keduanya dengan namanya namun memanggil keduanya dengan panggilan, “Ayah, ibu,” dan tidak bepergian kecuali dengan izin dan kerelaan keduanya.

3. Berbakti kepada keduanya dengan apa saja yang mampu ia kerjakan, dan sesuai dengan kemampuannya, seperti memberi makan pakaian kepada keduanya, mengobati penyakit keduanya, menghilangkan madzarat dari keduanya, dan mengalah untuk kebaikan keduanya.

4. Menyambung hubungan kekerabatan dimana ia tidak mempunyai hubungan kekerabatan kecuali dan jalur kedua orang tuanya, mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya, melaksanakan janji (wasiat), dan memuliakan teman keduanya.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 131-135.


Foto Cewek Cantik dari berbagai daerah di indonesia


Cewek-cewek Cantik Dari berbagai Daerah di Indonesia


Ini dia, kota yang menurut sebagian besar pemilih mempunyai populasi cewek yang cantik2. Perpaduan kulit mulus, body bagus, wajah yang rata2 “baby face”, senyum menawan, murah senyum dan tutur kata yang halus.

Ga ada habisnya kita liat cewek cantik kalo kesini, apalagi kalo kita jalan ke mall, siap2 cuci mata. Wanita2 yang pintar, cerdas, dan fashionable.


Kebanyakan wanita Aceh berwajah pepaduan Melayu dan Timur Tengah, menghasilkan kulit kuning langsat dan hidung mancung, bahkan di Aceh ada banyak keturunan Portugis dan Spanyol, bermata biru, biasa disebut Si Mata Biru Dari Aceh (Keturunan dari tentara Islam Kerajaan Islam Cordoba di Eropa yang mengungsi karena Runtuhnya Kekhalifahan Islam)


Kebanyakan cewek cantik di kota ini keturunan Chinese, perpaduan oksotik wanita Jawa dan kecantikan Asia Timur


Bukan rahasia umum, wanita solo terkenal dengan senyumnya yang manis, tutur bahasa yang halus.

6. Malang (Jawa Timur)

Wanita Jawa berkulit putih, pintar bergaul, dan senyuman yang manis.

7. Denpasar

Perpaduan kecantikan khas Indonesia dan kecerdasan, wanita Bali bukan wanita yg mudah untuk ditakhlukan hatinya.

8. Manado

Semua orang juga tau, kalo orang Manado putih mulus, dan body yg menawan, berisi, seksi kayak orang2 Fillipina.

9. Banjarmasin

Suku Banjar, biasanya disertai dengan tubuh aduhai, berkulit putih, wajah baby face dan keramahan khas Melayu.



12. RIAU









Ya berubung ane orang madiun, ane tambahin ndiri dah, cewek cantik asal madiun